Sabtu, 29 Oktober 2011

Sumpah Pemuda: Sejarah dan Semangat Pemuda

Masa depan bangsa terletak pada pundak pemuda. Demikian semboyan klasik yang selalu hangat, diucapkan oleh siapa saja yang mencurahkan segala harapannya kepada generasi muda untuk meneruskan estafet tanggung jawab akan nilai-nilai perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita nasional. Sumpah pemuda merupakan satu tonggak sejarah yang sangat monumental. Ia mengandung ilham kepatriotan dan kepahlawanan. Ia merupakan puncak dari kebangkita nasional yang bermula pada lahirnya Budi Utomo dua puluh tahun sebelumnya. Memang tepat dikatakan bahwa sumpah pemuda itu telah meletakkan suatu kerangka dasar perjuangan politik generasi muda pada waktu itu. Dan Sumpah Pemuda itu sendiri lahir di tengah perjuangan bangsa melawan penjajahan. Tetapi akar dan bibit-bibit sampai terumuskannya Sumpah pemuda itu sendiri bukanlah tiba-tiba atau bukanlah lahir pada tahun 1928. Jauh sebelumnnya, yakni pada kongres pemuda indonesia yang pertama (30 April 1926). Dalam kongres pertama itu Moh. Yamin dicanangkan suatu ikrar pemuda Indonesia yang berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu. Yang dikatakan oleh Moh. Yamin itu bukanlah mengenai bahasa Indonesia, tetapi bahasa Melayu. Adapun bunyi teks yang muncul dalam kongres pemuda indonesiaI adalah sbb:

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Kami putra dan putri Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, bahasa Melayu[1].

Usul dan rumusan yang diajukan Moh. Yamin dalam sidang atau kongres pemuda pertama menjadi bahan berdebatan yang sengit antara Moh. Yamin dan Moh. Tabrani, pemimpin kongres. Perdebatan itu berkisar pada soal bahasa. Tabrani, sebagai ketua kongres tidak menyetujui kalau bahasa persatuan disebut bahasa Melayu. Ia berpendapat bahasa persatuan haruslah bahasa Indonesia. Sedangkan Moh. Yamin tetap bersikeras bahwa bahasa persatuan itu tak lain adalah bahasa Melayu, sebab yang ada bahasa Melayu. Tabrani didukung oleh Sanusi Pane; sedangkan Moh. Yamin didukung oleh jamaluddin. Kutipan diskusi yang dilontarkan Tabrani antara lain mengatakan,”...jalan pikiran saya: kalau tumpah darah dan bangsa disebut Indonesia, maka bahasa persatuannya harus disebut bahasa Indonesia, dan bukan bahasa Melayu”. Yamin naik pitam dengan alasan, “Tabrani menyetujui pidato saya, tetapi kenapa menolak konsep usul resolusi saya. Lagi pula yang ada bahasa Melayu, sedangkan bahasa Indonesia. Tabrani tukang ngelamun”. Tanggapan Tabrani, “Alasanmu, Yamin, betul dan kuat. Maklum lebih paham tentang bahasa daripada saya. Namun saya tetap pada pendirian saya. Nama bahasa persatuan hendaknya bukan bahasa Melayu, tetapi bahasa Indonesia. Kalau belum ada harus dilahirkan melalui kongres pemuda pertama ini[2]

Dalam kongres pemuda Indonesia yang kedua, pendapat Tabrani dan Sanusi Pane benar-benar diperhatikan. Dengan demikian ikrar pemuda Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda, mencantumkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuannya[3]. Dengan demikian Sumpah Pemuda yang berintikan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa kemdian selalu menggelora di dada pemuda-pemudi, bahkan di dada seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Demikianlah betapa pun kaum Penjajah Belanda berusaha menghambat serta menghalang-halangi serta menggagalkan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia, namun berkat rahmat Allah dan berkat keuletan serta kegigihan para Pahlawan[4] Indonesia, akhirnya persatuan dan kesatuan nasional Indonesia kebangsaan Indonesia dapat tercapai dan terwujud juga. Maka tibalah saatnya orang-orang Belanda kolonial, ibarat sang induk Ayam di dalam dongeng hewan atau fabel, dengan sangat terkejut melihat bahwa anak itik yang keluar dari telur yang di eramnya telah turun ke air dan dapat berenang sendiri!

Generasi muda angkatan 28 telah menunjukan betapa mereka sangat gemilang dalam membangun bangsa Indonesia dengan berani merumuskan Sumpah Pemuda dan Perjuangan bangsa. Semangat para pemuda pada zaman itu benar-benar tanpa pamrih. Mereka berjuang demi negara, demi rakyat banyak, dan bukannya demi mereka sendiri dan keluarga mereka. Tokoh panutan yang mempunyai jiwa demikian ini sangat dibutuhkan pada zaman ini. Tokoh-tokoh pemuda zaman ini hampir tidak berperan dalam panggung sejarah. Seolah dunia sekarang ini dikuasai oleh kaum tua. Hal ini juga terjadi di Indonesia. Rupanya kaum tua kurang melihat potensi yang ada dalam generasi muda. Kalau demikian perlulah melihat orang melihat ke belakang, ke tahun 1928: dalam tahun itulah peranan pemuda memainkan peranan yang sentral, tiada bandingnya, pemuda zaman sekarang?[5]



[1] Kutipan menggunakan ejaan yang sudah disempurnakan: teks asli masih menggunakan ejaan lama.

[2] M. Tabrani, ‘Sejarah satu Nusa, satu Bangsa, satu Bahasa Indonesia’, dalam G A Warmansyah, Cerita Tentang Peranan Pemuda, Dinas Museum Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Jakarta. 1977, hal.40.

[3] “Kami Putra-Putri Indonesia Mengaku Berbahasa satu, Bahasa Indonesia”.

[4] Seorang pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang turun ke bumi lalu memecahkan permasalahan yang ada, setelah masalah itu selelsai orang suci tersebut naik ke langit lagi. Pahlawan adalah orang biasa tetapi melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dengan mengoptimalkan seluruh daya dan potensinya demi Bangsa dan negaranya.

[5] Pemuda zaman sekarang banyak diobyekan dan kurang dijadikan subyek. Begitulah kesan-kesan yang muncul dalam berbagai diskusi gerakan pemuda sekarang ini.

1 komentar:

Azwan nurkholis mengatakan...

hidup mahasiswa

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes